Eksplorasi pertama membawa anak-anak menyelami sejarah komunikasi rahasia di Museum Sandi. Ruang pameran yang unik memancing rasa ingin tahu mereka untuk berimajinasi layaknya detektif masa lampau yang memecahkan kode-kode perjuangan. Perjalanan kemudian berlanjut naik ke kawasan lereng untuk mengunjungi Museum Gunung Api Merapi. Di tempat ini, wawasan anak-anak semakin terbuka saat mengamati replika gunung, mengenal alat perekam gempa, serta memahami kebesaran alam.
Pengalaman belajar yang sesungguhnya terjadi saat anak-anak memberanikan diri mencoba fasilitas simulasi gempa vulkanik. Guncangan buatan tersebut rupanya memberikan efek kejutan yang luar biasa bagi beberapa murid. Ananda Neelam dan Anggun seketika merespons dengan kepolosan mereka yang menggemaskan. Keduanya spontan berjongkok, saling berpegangan tangan erat-erat, sambil berseru pelan, "Takuut... takuut." Reaksi jujur ini langsung disambut pelukan hangat dari guru-guru pendamping yang dengan sigap menenangkan mereka, sekaligus memberikan pemahaman bahwa merendahkan tubuh saat terjadi guncangan adalah insting keselamatan yang sangat tepat.
Keseruan belajar langsung di lapangan ini mendapat apresiasi penuh dari Kepala SLB Negeri 2 Yogyakarta, Ibu Dyah Sulistyawati, S.Pd., M.Pd. Beliau melihat kegiatan ini sebagai pendorong utama tumbuhnya keberanian peserta didik. "Pengalaman menjelajah di luar kelas seperti ini sangat berharga untuk melatih kemandirian dan kepekaan anak-anak terhadap lingkungan sekitarnya. Terlebih saat simulasi bencana, kita bisa langsung menanamkan sikap waspada sejak dini di benak mereka. Harapannya, mereka terus tumbuh menjadi generasi hebat yang mandiri dan siap menjaga diri di mana pun berada," pesan beliau dengan senyum bangga. Rangkaian kunjungan hari itu ditutup dengan membawa pulang kenangan indah, membuktikan bahwa proses belajar yang menyenangkan bisa terjadi di mana saja.
Oleh: Tim Humas SLB Negeri 2 Yogyakarta
.png)


