
Ibu Dyah Sulistyawati, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala SLB Negeri 2
Yogyakarta, membuka pertemuan dengan sambutan yang menyentuh. Beliau mengajak
seluruh orang tua dan warga sekolah untuk mengikuti setiap sesi dengan hati
yang terbuka. Harapannya, ilmu yang didapat tidak berhenti di ruang pertemuan,
tetapi benar-benar terwujud dalam keseharian demi mencapai kemandirian siswa,
sesuai dengan nafas visi sekolah kita yang berbudaya dan berprestasi.
Narasumber kita, Ibu Deassy M Destiani, M.Psi., menekankan bahwa
setiap anak dengan hambatan intelektual membawa potensi unik yang menunggu
untuk ditemukan. Kunci utamanya terletak pada penerimaan penuh dari orang tua.
Beliau menjelaskan bahwa membangun kemandirian bisa dimulai dari hal-hal
sederhana di rumah, seperti rutinitas harian yang terstruktur. Dengan memberikan
ruang bagi anak untuk mencoba keterampilan dasar secara bertahap, kita
sebenarnya sedang memupuk rasa percaya diri agar mereka tidak selalu bergantung
pada bantuan orang lain di masa depan.
Salah satu momen yang paling
membekas adalah saat orang tua dari ananda Begawan berbagi cerita tentang
dinamika merawat buah hatinya. Dengan jujur, beliau menceritakan suka duka yang
dialami, yang kemudian memicu pertanyaan penting mengenai cara menggali
kemampuan anak yang mungkin selama ini belum terlihat. Menanggapi hal tersebut,
Ibu Deassy memberikan pesan yang sangat mencerahkan. Orang tua perlu menjadi
pengamat yang jeli terhadap minat non-akademik anak, baik itu di bidang seni,
musik, maupun olahraga.
Pendekatannya tidak perlu
terburu-buru; cukup dengan metode langkah-langkah kecil yang konsisten. Dengan
dukungan ekosistem sekolah yang inklusif dan apresiasi tulus atas setiap
kemajuan sekecil apa pun, anak-anak kita akan mampu membuktikan bahwa hambatan
yang mereka miliki bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang bermakna
dan hidup secara berdaya.
.png)