NqN5LWB7MGx5MWRcLGx5NGFcLDcsynIkynwbzD1c

Sinergi Sekolah dan Keluarga: Mempersiapkan Kemandirian Siswa dengan Hambatan Intelektual

BLANTERLANDINGv101
2388665784219781519

Sinergi Sekolah dan Keluarga: Mempersiapkan Kemandirian Siswa dengan Hambatan Intelektual

Selasa, 05 Mei 2026
YOGYAKARTA - Suasana Aula SLB Negeri 2 Yogyakarta pada Rabu, 6 Mei 2026, terasa begitu hangat dan penuh kekeluargaan. Para orang tua dan wali siswa berkumpul bersama guru serta karyawan untuk menyerap ilmu dalam agenda parenting bertajuk “Masa Depan Anak dengan Hambatan Intelektual di Tangan Orang Tua: Dari Sekolah ke Kehidupan Mandiri”. Acara ini menjadi ruang refleksi sekaligus penyemangat bagi keluarga besar sekolah dalam menemani tumbuh kembang anak-anak hebat kita.

 

Ibu Dyah Sulistyawati, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala SLB Negeri 2 Yogyakarta, membuka pertemuan dengan sambutan yang menyentuh. Beliau mengajak seluruh orang tua dan warga sekolah untuk mengikuti setiap sesi dengan hati yang terbuka. Harapannya, ilmu yang didapat tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi benar-benar terwujud dalam keseharian demi mencapai kemandirian siswa, sesuai dengan nafas visi sekolah kita yang berbudaya dan berprestasi.

 

Narasumber kita, Ibu Deassy M Destiani, M.Psi., menekankan bahwa setiap anak dengan hambatan intelektual membawa potensi unik yang menunggu untuk ditemukan. Kunci utamanya terletak pada penerimaan penuh dari orang tua. Beliau menjelaskan bahwa membangun kemandirian bisa dimulai dari hal-hal sederhana di rumah, seperti rutinitas harian yang terstruktur. Dengan memberikan ruang bagi anak untuk mencoba keterampilan dasar secara bertahap, kita sebenarnya sedang memupuk rasa percaya diri agar mereka tidak selalu bergantung pada bantuan orang lain di masa depan.

 

Salah satu momen yang paling membekas adalah saat orang tua dari ananda Begawan berbagi cerita tentang dinamika merawat buah hatinya. Dengan jujur, beliau menceritakan suka duka yang dialami, yang kemudian memicu pertanyaan penting mengenai cara menggali kemampuan anak yang mungkin selama ini belum terlihat. Menanggapi hal tersebut, Ibu Deassy memberikan pesan yang sangat mencerahkan. Orang tua perlu menjadi pengamat yang jeli terhadap minat non-akademik anak, baik itu di bidang seni, musik, maupun olahraga.

 

Pendekatannya tidak perlu terburu-buru; cukup dengan metode langkah-langkah kecil yang konsisten. Dengan dukungan ekosistem sekolah yang inklusif dan apresiasi tulus atas setiap kemajuan sekecil apa pun, anak-anak kita akan mampu membuktikan bahwa hambatan yang mereka miliki bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang bermakna dan hidup secara berdaya.


Oleh: Tim Humas SLB Negeri 2 Yogyakarta
BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang