Simulasi ini memberikan manfaat nyata bagi para murid, khususnya dalam melatih respons cepat dan tenang. Para siswa diajarkan teknik penyelamatan diri yang mendasar namun krusial, seperti tidak panik, segera melindungi kepala, serta mencari perlindungan di bawah meja bagi mereka yang berada di dalam ruangan. Mengingat karakteristik peserta didik, guru dan karyawan dengan sigap mempraktikkan cara mendampingi serta menolong murid yang menggunakan kursi roda agar dapat mencapai titik kumpul dengan selamat.
Bapak Yudi, selaku ketua tim SPAB, menekankan pentingnya latihan rutin ini agar prosedur keselamatan menjadi kebiasaan. "Hal terpenting saat terjadi bencana adalah jangan panik dan segera selamatkan diri," tegasnya.
Setelah simulasi evakuasi berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktek yang sangat aplikatif, yaitu pembuatan alat penerangan sederhana. Warga sekolah diajarkan cara membuat pelita darurat menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan sehari-hari, yakni kapas dan minyak goreng.
Sesi ini bertujuan untuk membekali guru, karyawan, dan siswa dengan keterampilan bertahan hidup saat bencana terjadi, terutama ketika aliran listrik padam. Dengan alat sederhana ini, diharapkan setiap warga sekolah memiliki solusi mandiri untuk menciptakan penerangan darurat di rumah maupun di lingkungan sekolah.
Melalui rangkaian kegiatan ini, SLB Negeri 2 Yogyakarta tidak hanya melatih fisik dalam menghadapi bencana, tetapi juga memberikan pengetahuan praktis yang bermanfaat untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan dalam kondisi darurat.
Oleh: Tim Humas SLB Negeri 2 Yogyakarta
.png)


.jpeg)