NqN5LWB7MGx5MWRcLGx5NGFcLDcsynIkynwbzD1c

Dari Sampah Jajan Menjadi Gantungan Kunci, Begini Cara Murid SLB Membuat Eco Keyring

BLANTERLANDINGv101
2388665784219781519

Dari Sampah Jajan Menjadi Gantungan Kunci, Begini Cara Murid SLB Membuat Eco Keyring

Rabu, 16 September 2026

Yogyakarta, SLB Negeri 2 Yogyakarta menggelar Seminar Kurikulum Berbasis Lingkungan, Budaya, dan Pariwisata (Berliyata) bertajuk "Eco Keyring" pada Rabu, 16 September 2026, di sekolah tersebut.

Seminar ini menghadirkan Ibu Alfiani Nur Prasmawati, S.Pd.Gr., guru SLB ABCD Tunas Kasih Donoharjo, sebagai narasumber. Beliau membawakan materi berjudul "Eco Keyring: Dari Sampah Menjadi Karya menuju Pembelajaran Berbasis Lingkungan melalui Project Based Learning di SLB". Melalui materi ini, peserta diajak melihat bahwa persoalan sederhana di lingkungan sekolah dapat dikembangkan menjadi pengalaman belajar yang kreatif dan bermakna.

Acara dibuka dengan sambutan Kepala SLB Negeri 2 Yogyakarta, Dyah Sulistyawati, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk terus memperkaya wawasan guru dalam mengembangkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan murid dan lingkungan sekitar. Seminar kemudian dibuka secara resmi oleh Pendamping Sekolah, Sri Muji Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Semua Berawal dari Sampah Bekas Jajan

Dalam pemaparannya, Ibu Alfiani mengajak peserta merenungkan pertanyaan sederhana yang dekat dengan keseharian di sekolah, yaitu apa yang biasa dilakukan murid terhadap sampah setelah selesai jajan.

Dari kebiasaan sederhana itulah praktik baik Eco Keyring bermula. Ibu Alfiani menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak lahir dari keinginan membuat kerajinan, melainkan dari kebiasaan anak-anak seusai jajan. Sampah kemudian dipilah, dikelompokkan, ditimbang, dijual, dan dicatat sebagai bagian dari budaya lingkungan sekolah.

Kegiatan memilah sampah ini tidak diberikan dengan tuntutan yang sama kepada semua murid. Bentuk keterlibatan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, mulai dari memilah jenis sampah, mengelompokkan, mengikuti proses penimbangan dengan pendampingan, mencatat secara sederhana, hingga mengantarkan sampah ke bank sampah bersama guru.

Dari proses tersebut muncul pertanyaan baru, apakah sampah yang nilai jualnya rendah dapat diubah menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Pertanyaan inilah yang kemudian melahirkan gagasan Eco Keyring.

Murid Terlibat Sesuai Kemampuan Masing-Masing

Eco Keyring dikembangkan dengan pendekatan Project Based Learning. Murid tidak hanya menerima instruksi, tetapi mengalami sendiri proses menemukan, memilih, membuat, hingga menunjukkan hasil karya.


Alur proyek dimulai dengan mengamati sampah yang ada di sekolah dan memilih bahan yang masih dapat dimanfaatkan. Murid kemudian mengamati warna dan bentuk, menentukan desain, membuat sketsa, merancang kemasan, menyiapkan bahan, melakukan proses pembuatan, hingga mempresentasikan hasil dan merefleksikan pengalaman belajarnya. Laptop dan Canva turut digunakan dalam proses perancangan.

Prinsip penting dari kegiatan ini adalah bahwa setiap murid tidak harus mengerjakan tugas yang sama. Ada murid yang berkontribusi dengan memilih bahan, menentukan warna, membuat desain, melakukan finishing dengan pendampingan, hingga menata kemasan dan menunjukkan hasil karya.

Pendekatan ini terasa relevan bagi pendidikan khusus. Pembelajaran tidak semata-mata mengejar produk yang seragam, melainkan memberi ruang kepada setiap murid untuk mencoba, memilih, terlibat, menyampaikan ide, dan merasakan bahwa dirinya mampu berkarya.

Seminar Dilanjutkan dengan Praktik Membuat Eco Keyring

Seminar ini tidak berhenti pada pemaparan konsep. Peserta juga dikenalkan dengan tahapan pembuatan dan finishing Eco Keyring, mulai dari memilih dan merangkai bahan, memasang komponen gantungan, hingga mengemas dan menunjukkan hasil karya.


Melalui proses tersebut, peserta dapat melihat bahwa proyek berbasis lingkungan dapat dikembangkan menjadi pembelajaran yang mencakup banyak aspek sekaligus, mulai dari kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, keterampilan motorik, kemampuan memilih, komunikasi, teknologi, hingga keterampilan kewirausahaan sederhana.

Kebermaknaan Eco Keyring tidak hanya terletak pada hasil akhirnya, tetapi juga pada perubahan yang ingin ditumbuhkan pada murid, dari yang sebelumnya cenderung menunggu arahan menjadi mulai berani memilih, menunjukkan preferensi, mencoba, menyampaikan ide dengan caranya sendiri, menunjukkan hasil, dan merasa "saya juga bisa".

Seminar ini mengingatkan bahwa pembelajaran yang baik tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Masalah sederhana di sekitar sekolah dapat menjadi sumber belajar ketika guru mampu melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda.

Berfoto bersama narasumber Ibu Alfiani Nur Prasmawati, S.Pd.Gr., guru SLB ABCD Tunas Kasih Donoharjo

Sebagaimana disampaikan dalam materi, proyek tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Masalah di sekitar sekolah dapat menjadi sumber belajar, dan keberpihakan kepada murid berarti memberi ruang untuk memilih, mencoba, serta berkontribusi sesuai kemampuan.

Dari sampah menjadi karya, dari proses menjadi pengalaman, dan dari pengalaman itu tumbuh pembelajaran yang semakin bermakna bagi setiap murid.

Oleh: Tim Humas SLB Negeri 2 Yogyakarta

BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang