Didampingi Kepala SLB Negeri 2 Yogyakarta, Dyah Sulistyawati, S.Pd., M.Pd., kelima murid mengikuti kegiatan sejak siang hari. Setelah registrasi dan sesi ramah tamah, acara dilanjutkan dengan program "Istana untuk Rakyat" yang menghadirkan sekitar 100 anak penyandang disabilitas di Istana Agung Yogyakarta.
![]() |
| Bersama Ketua dan Sekjen PGRI Pusat dan ketua Ketua PGRI DIY |
Suasana kian semarak saat para peserta mengikuti Parade Kebangsaan dan Parade Budaya dari kawasan Malioboro menuju Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Berada di tengah keramaian kota, mengenakan semangat kebangsaan, dan berjalan bersama peserta lain menjadi pengalaman tersendiri bagi para murid. Mereka tidak sekadar menjadi penonton, melainkan turut hadir sebagai bagian dari perayaan keberagaman dan inklusi di ruang publik.
Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pembacaan Naskah Proklamasi menggunakan bahasa isyarat, sebagai bagian dari upaya pemecahan Rekor MURI. Momen tersebut membawa pesan kuat bahwa semangat kemerdekaan dapat disampaikan dan dimaknai melalui berbagai cara komunikasi. Perbedaan bukan penghalang untuk bersama-sama menyuarakan cinta kepada Indonesia.
![]() |
| Bersama pak Walikota di Istana Presiden |
Pada acara utama, peserta turut menyaksikan berbagai penampilan seni dari penyandang disabilitas, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta mengikuti rangkaian sambutan dan penyerahan bantuan pendidikan. Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed.
Menjadi pengalaman yang membanggakan bagi keluarga besar SLB Negeri 2 Yogyakarta ketika Dyah Sulistyawati bersama para murid berkesempatan bertemu langsung dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Anak-anak juga berkesempatan bertemu dan berfoto bersama Wali Kota Yogyakarta serta Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI). Pertemuan ini menjadi kenangan berharga bagi para murid, sekaligus memberi pengalaman berinteraksi dengan tokoh publik di luar lingkungan sekolah.
![]() |
| Bersama pak Kapolda DIY |
Bagi murid berkebutuhan khusus, kegiatan seperti "Suara Inklusi untuk Semua" memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengikuti sebuah acara. Berada di lingkungan baru membantu mereka belajar beradaptasi, berkomunikasi, menumbuhkan keberanian, serta meningkatkan rasa percaya diri. Kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat juga memberikan pengalaman nyata bahwa ruang publik merupakan ruang bersama, termasuk bagi penyandang disabilitas.
Pengalaman ini sekaligus menjadi pembelajaran tentang kebangsaan, keberagaman, budaya, dan kebersamaan. Para murid dapat melihat langsung bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan cara masing-masing untuk berkarya serta berkontribusi bagi masyarakat.
Rangkaian "Suara Inklusi untuk Semua 2026" kemudian dilanjutkan dengan Panggung Kesenian Nusantara Inklusif yang menghadirkan beragam penampilan seni budaya dari penyandang disabilitas. Dari Istana Agung hingga Malioboro, hari itu menjadi ruang bagi banyak suara untuk didengar dan banyak potensi untuk diapresiasi.
![]() |
| Foto bersama teman-teman yang menyusul |
Bagi Ale, Rafi, Ikhsan, Fafa, dan Erinta, perjalanan ini menyisakan lebih dari sekadar foto bersama. Ada pengalaman, keberanian, kebanggaan, dan keyakinan bahwa mereka pun memiliki tempat untuk hadir, belajar, berkarya, dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Oleh: Tim Humas SLB Negeri 2 Yogyakarta
.png)
.jpeg)



