Perjalanan rombongan dimulai dari ruang Audio Visual. Di ruangan yang nyaman ini, pandangan anak-anak tertuju pada layar yang memutar film pendek berjudul "Topi" persembahan Paniradya Kaistimewan. Kisah di dalam film tersebut meresap ke hati anak-anak, mengajarkan tentang kekayaan budaya Jogja serta pentingnya mengamalkan nilai unggah-ungguh atau sopan santun dalam keseharian. Keseruan pun berlanjut saat rombongan bergeser ke ruang koleksi langka. Mata mereka berbinar takjub saat mendengarkan penjelasan Bu Dewi mengenai aneka manuskrip bersejarah yang usianya telah mencapai ratusan tahun.
Suasana makin hidup ketika langkah mereka tiba di ruang diorama. Rangkaian sejarah kebangkitan dan kejayaan Mataram hingga lahirnya keistimewaan Yogyakarta terpampang nyata secara visual. Anak-anak asyik menyimak silsilah raja-raja hingga perjalanan sejarah Keraton Yogyakarta. Rasa kagum seketika memuncak saat mereka mengamati objek 3D yang menggambarkan peristiwa gempa bumi tahun 2006. Momen pengamatan ini menyentuh sisi spiritual mereka, menumbuhkan rasa takjub akan kebesaran kuasa Tuhan di balik peristiwa alam yang pernah meluluhlantakkan Yogyakarta.
Di sela-sela eksplorasi yang kaya sejarah itu, kecanggihan teknologi perpustakaan rupanya berhasil memancing kepolosan murid. Saat Bu Dewi menjelaskan bahwa setiap buku memiliki sensor keamanan yang akan memicu bunyi alarm jika dibawa keluar tanpa izin, ananda Maulana spontan melontarkan celetukan bernada keheranan. "Wah, kok bisa ya?" tanyanya polos. Pertanyaan spontan ini sontak memancing senyum simpul dari para pendidik dan petugas. Sebagai bentuk edukasi kemandirian, petugas perpustakaan lantas memotivasi anak-anak untuk rajin meminjam buku secara resmi dengan mendaftarkan keanggotaan mereka melalui aplikasi Yokca.
Rangkaian kegiatan library tour ini dirancang sangat selaras dengan visi misi sekolah yakni untuk mencetak generasi yang beriman, berbudaya, berprestasi, dan mandiri. Menanggapi antusiasme murid-muridnya, Kepala SLB Negeri 2 Yogyakarta, Ibu Dyah Sulistyawati, S.Pd., M.Pd., menitipkan pesan dan harapan mendalam. "Saya berharap anak-anak senang membaca. Membaca tidak hanya tulisan, tetapi juga membaca simbol, serta memahami situasi yang terjadi di sekitar," tutur beliau. Lewat penjelajahan seru di Grhatama Pustaka, anak-anak dengan berbagai hambatan ini berhasil membawa pulang bekal berharga tentang sejarah, adab, serta keberanian mengakses fasilitas publik secara mandiri.
Oleh: Tim Humas SLB Negeri 2 Yogyakarta
.png)



